Purezento News

Kekaisaran Jepang Wujudkan Kembali Kehidupan Tradisi : Lelaki Menggarap Sawah, Perempuan Menenun

Date: 2011-07-25

Pada 26 Mei kaisar Akihito  dari Jepang turun tangan sendiri dengan menanam padi  di sawah, sedangkan sang permaisuri Michiko menanam sendiri daun murbei sebagai makanan bagi ulat sutra. 

Gaya hidup: "Sang kaisar bercocok tanam sendiri, sang permaisuri menanam sendiri pohon murbei," menjadi pelopor bagi dunia. Mewujudkan kembali kehidupan tradisional lelaki menggarap sawah, perempuan menenun, suatu spirit kerendahan hati dalam rangka respek terhadap sang Pencipta.


Sesuai rencana upacara ritual tradisional menancapkan tunas padi pada 14 Mei ditunda hingga 26 Mei, karena sang kaisar yang menderita flu. Pada hari tersebut Akihito yang mengenakan hem abu-abu muda, celana biru, sepatu boots hitam, ia jongkok di  sawah, tangan kiri memegang tunas dengan hati-hati mulai seuntai demi seuntai menancapkannya ke dalam sawah yang berair tersebut.

Ini adalah salah satu aktivitas dinas yang dijadwalkan pada setiap awal musim kemarau oleh kaisar Akihito. Bersamaan dengan itu sang permaisuri juga tidak tinggal diam, permaisuri Michiko secara terbuka memberi makan daun murbei di "gunung daun merah" yang khusus untuk memelihara ulat sutera bagi keluarga kaisar. Tradisi sang kaisar bercocok tanam sendiri, sementara sang permaisuri memberi daun murbei di Jepang masih berlangsung hingga saat ini.

 

Musim semi menebar benih, awal musim panas menanam tunas, menanti musim gugur menuai panen raya.

 


KIRI: Tangan kiri memegang tanaman tunas, tangan kanan dengan cermat menancapkannya seuntai demi seuntai ke dalam sawah. Ini adalah salah satu kewajiban kaisar Akihito setiap tahun pada awal musim panas. KANAN: Sutra kelas jempolan yang ditangani sendiri oleh permaisuri Michiko, sebagian diperuntukkan bagi restorasi karya sutra kuno yang rusak. (KOLEKSI ISTANA)

Tenno Jepang secara turun temurun sangat mementingkan pertanian, persawahan sang Kaisar Showa (Hirohito) seluas 230 m2 terletak di sebelah bangunan penelitian ilmu biologi di dalam istananya, setiap tahun sesuai dengan kebiasaan dilakukan kegiatan menanam padi. Pada hari itu sang kaisar mengenakan sepatu anti air memasuki sawah, ia memegang 20-an tunas beras ketan yang berumur genap sebulan, dengan terampil menancapkannya satu persatu ke dalam air sawah, total pada hari itu ia menanam 180 batang.

Ketika panen pada musim gugur, padi hasil panen terlebih dahulu dipersembahkan kepada sang Pencipta, untuk menghaturkan rasa terima kasih. Upacara ritual yang dilangsungkan setiap 23 November itu dinamakan ritual pengenyaman baru. Menurut data, pada setiap 23 November tersebut di dalam istana kekaisaran Jepang pasti dilangsungkan "ritual pengenyaman baru" itu, konon pada hari itu persembahan meliputi 5 jenis pepadian, sang kaisar dengan khidmat bermeditasi dengan duduk simpuh di depan altar selama 2 jam,  bersujud kepada sang Pencipta berterima kasih atas pemberian berupa panen yang melimpah-ruah.

Tetapi sesudah restorasi Meiji "ritual pengenyaman baru" diubah menjadi "Hari libur warga", kemudian diubah lagi menjadi "Hari Rajin Berterima Kasih", dengan makna "Dari sela-sela rajin juga harus mendoakan produksi, dan antar warga harus saling mendoakan". Musim semi menebar bibit, awal musim panas menanam tunas, musim gugur dipanen, setiap 17 Oktober, melakukan ritual, setiap 23 Nopember melakukan ritual pengenyaman baru.

Sesuai data yang diperoleh, sesudah restorasi Meiji hingga sekarang, berbagai upacara ritual perayaan tradisional utama yang diselenggarakan dari semula menggunakan penghitungan kalender imlek yang berasal dari Tiongkok, diubah menggunakan kalender masehi. Pada zaman Tiongkok kuno, upacara ritual pertanian dan pertenunan adalah satu rangkaian yang sangat penting. Demi panen raya 5 jenis pepadian di seluruh negeri, kaisar memohon ke sang Pencipta dengan upacara memohon pangan dan memohon hujan, yang diketahui oleh seluruh keluarga di Tiongkok.

"Sang kaisar menanam sendiri, sang permaisuri memelihara ulat sutra sendiri, pionir bagi seluruh negeri", sesuai dengan kebiasaan tradisional bahwa lelaki menggarap sawah sedangkan perempuan memelihara ulat sutra, dalam pembagian upacara ritualnya yakni sang kaisar berperan menggarap sawah sendiri, sang permaisuri memelihara ulat sutra. Bukan hanya kaisar yang harus turun ke sawah, cerita tentang permaisuri juga harus memelihara sendiri ulat sutera untuk diambil sutera dan dibuatkan kainnya, sejak zaman dinasti Han (206SM - 220) sampai ke dinasti Qing (baca: Ching, 1616-1911) selalu ada.

Menurut kitab kuno: pada masa kekuasaan Kaisar Kangxi dinasti Qing, sang kaisar menginspeksi situasi cocok-tanam pada musim semi di Jingnan, ia pernah membajak sawah sendiri, membajak tiada henti hingga 1 Mu (667 m2). Ketika itu  puluhan ribu rakyat ikut menyaksikan kejadian itu, dan intelektual kondang Li Guangdi secara khusus mencatat kejadian tersebut (^Hills^).


Sumber : http://www.epochtimes.co.id/